Saturday, October 15, 2016

ketika kelas menengah ngehek mau beli rumah


Saya mau beli rumah. Ralat, kami mau beli rumah. Saya dan suami.

Akhirnya waktu itu telah tiba. Waktu dimana kami harus membuat komitmen yang jauh lebih mengerikan. Tolong dicatat ya, actually, a real commitment is not with a man, but with... a bank. Hiks. Saya masih belum bisa membayangkan punya hutang sekian ratus juta ke bank. Apakah saya bisa tidur nantinya? Entahlah. Saya belum pernah berhutang sedemikian besar. 

Setelah menikah, kata orang, rencana beli rumah mau tak mau harus diwujudkan. Cepat atau lambat, tapi kalau bisa cepat. Kalau tidak sekarang mau kapan? katanya. Nyicil rumah bisa sampai 20 tahun. Sementara saya berencana umur 50 sudah pingin pensiun. Mimpi mengerikan tentang suku bunga KPR yang luar biasa tingginya, lebih horor dari mimpi bertemu sundel bolong atau script yang khas dari Agung Podomoro dengan ancaman yang lebih kejam dari preman Tanah Abang, "Hari senin harga naik!"  


Ada seorang teman saya yang baru saja membeli rumah mungil di kawasan Cibubur. Harga rumahnya IDR625.000.000,- DP yang dia bayar IDR 175.000.000,- (belum ditambah biaya notaris dll sekitar IDR25.000.000) cicilan yang harus dia bayar selama 25 tahun, bayangkan, dua puluh lima tahun, itu sekitar IDR3.900.000,- nah coba itung deh berapa total yang harus dia bayar? 1 miliar lebih, bunganya doang udah 400 juta lebih! *insert meme dian sastro 'kamu jahad' here* *insert kata makian pilihan kalian*


Itu masalah pertama, hutang. Masalah kedua, jarak tempuh. 

Enam tahun yang lalu saya ikut arus urbanisasi ke Jakarta. Ngekost di daerah Mampang, kantor di Sudirman. Dua tahun kemudian pindah kerja ke Bunderan HI, kost pindah ke daerah Menteng Atas. How easy my life was? Dari kost ke kantor cuma 10 menit. Bisa bangun tepat jam setengah 8, lalu mandi, gosok gigi lalu berangkat kerja. 

Bandingkan sama teman saya yang rumahnya di Tangerang atau Bekasi, atau Depok. Bangun jam 4 atau 5 subuh, naik ojek ke stasiun kereta, antre kereta, lalu umpel-umpelan di kereta, lalu naik ojek lagi ke kantor. Dateng-dateng ke kantor badannya udah bau keringet dan matahari plus campuran asap kopaja dikit. *insert meme awkarin #ThugLyfeeee here* Oh ya, jangan sampai terbuai jargon "naik kereta cuma 20 menit ke Sudirman", nyatanya, 20 menit itu belum termasuk waktu tempuh, nunggu ojek dari rumah, nunggu kereta, dan harap dimasukan juga insidental moment kala kereta mogok atau anjlok.

Untuk sebagian orang yang tinggal di kota besar di negara barat, sangking harga tanah yang luar biasa tingginya, mereka tidak lagi berpikir untuk beli tanah atau rumah. Sewa apartemen saja sudah cukup. Bagi mereka, investasi berarti membawa seluruh keluarga kelliling Asia, Afrika, atau Eropa. Tapi istilah 'full time traveler' cuma sekadar content bio di profil Instagram, slogan 'do what makes you happy' itu cuma mitos, 'you only live once' pantatmu, apalagi bagi penduduk Jakarta, atau kota-kota besar di Indonesia, para anggota kelas pekerja. Wayahna, kalau di bahasa Sunda. 

Normal is getting dressed in clothes that you buy for work and driving through traffic in a car that you are still paying for -- in order to get the job you need to pay for the clothes and the car. And the house you leave vacant all day so you can afford to live in it. - Ellen Goodman, Journalist. 

The irony of life. Capek-capek banting tulang buat bayar cicilan rumah, eh, rumahnya juga jarang ditinggalin, cuma buat tidur doang. Ada juga yang merasa ga kalau hidup di Jakarta ini aneh sekali? Haha.. 

Life, you're so funny it hurts.. 

***

14 comments:

  1. Coba tanya2 Mimit, Gal. Dia pake KPR syariah ktny lebih oke. Rumahnya jg bagus lokasinya. Tmn gw kelas menengah UK mah ga nyewa apartemen. Rata2 udah mampu nyicil rumah di luar London dr rentang usia 20an. Pas 30an udah lunas. Emg kita kelamaan S1, jd mangkas usia produktif kerja. Atau yah kenaikan UMR sini ga setara peningkatan harga rumah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya gw baca baca jg syariah lbh ringan linn.. Kl gw rasa sih harga tanah yang melambung gila-gilaan ga karuan. Ga masuk akal banget kayanya. Btw thanks infonya linnn

      Delete
  2. Same here.
    Kadang jd suka nyerah sendiri trus rasanya pgn bangun rumah sendiri di area hijau pinggir pintu tol :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku camping aja gtu, kalau beli tenda yg paling mahal bisa sih kayany. 😂

      Delete
  3. Akumah rasanya sudah layu sebelum berkembang urusan ini. Dua taun lalu sebelum nikah semangat, browsing2 dan tanya-tanya. Pas udah tau, males. Yang kebeli, jauhnya kebangetan. Yang deket gak kebeli. Aku mau denial aja dulu ah, gatau sampe kapan ☹️️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahaa aku pun ingin rasanya denial, tapi ini uda force by situation banget ihhh keseell 😂 Masi suka bikin list, kalo ga beli rumah bisa pergi ke anu anu anu.. But then reality hits me.. Ok, tersadar dr kehaluan yang hakiki..

      Delete
  4. Gak usah jakarta mbakgal, saya yg di Makassarpun ngerasa macam itu. Blunder sendiri kadang2, kalo dipikirin. Jadi ya dijalanin ajah, biar dibilang "manusia normal dengan hidup normalnya"

    Haha..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaa yakk makasar pun uda mirip2 Jakarta 😂 Semangaat ya syam, cari uang demi apa? Demi hidup normallll 😅

      Delete
  5. Kalau yang kpr subsidi gimana Mbak Gal? Tapi, ya gitu. Posisinya jauh sih, kayak di daerah Parungpanjang, Gunung Sindur, dan Maja. Pilihan transport hanya commuter tercintaaa~ (#AnakCommuterYoi).

    ReplyDelete
    Replies
    1. KPR Subsidi setauku buat yg gajinya < 4.000.000 deh. Dan pernah liat jg bangunannya, semacam yg tipis banget temboknya. 😅 Dan ya begitulah.. Lokasinya pun terpencil nun jauh di sana. Pergi kerja setengah mati, pulang setengah mati, bayar cicilannya jg masi setengah mati. Kapan setengah idupnya? 😜😂😅

      Delete
  6. Hai Galuh. Mau sharing cerita sedikit. Aku dan suami dari tahun pertama nikah udah cicil rumah KPR. Kenapa? Karena we feels safe and warm if we have a place called home. Pergi jauh-jauh keliling dunia, rasanya seneng kalo bisa inget utk pulang ke rumah. Berat memang cicil KPR, tapi ternyata prosesnya bisa menyenangkan juga lho hihi. Positifnya jadi lebih wise kalo belanja dan rajin masak. Semangat ya! Semoga kamu dan suami dilimpahkan rejekinya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul sekali. Ini juga lagi nyemangatin diri sendiri, mungkin bisa jadi penyemangat buat giat bekerja juga. 😂 Thanks for stopping by anyway 😊

      Delete