Friday, September 25, 2015

everest the movie (2015): leave nothing but footprint?

Gambar dari sini 
Sebagai seorang penikmat gunung tropis sejati, saya tidak pernah tertarik dengan gunung bersalju. Tapi menonton film Everest yang dibintangi oleh Jason Clarke menurut saya adalah suatu keharusan bagi seorang penikmat atau pendaki gunung. Efenerr menulis reviewnya dengan sangat apik disini.  
Film ini memberikan banyak sekali insight tentang naik gunung, teknik pendakian, teknik survival, teknik persiapan sampai manajemen pendakian. Seharusnya penonton tidak hanya terkagum-kagum menyimak bagaimana gagahnya Everest dan berbungah hati ingin mendaki, simak juga bagaimana detail dan rapinya pembagian yang dilakukan dalam pendakian. Ya, karena pendakian itu tak semata soal puncak. -www.effener.com

Thursday, September 24, 2015

harus kemana di samarinda?


Not even once in my life, I've ever consider myself as a photographer. No, I am not a photographer, I am just a girl with Nikon. Buat saya, selain emang skill motret yang standar abis, fotografi itu cuma hobi. Sama seperti naik gunung. Dulu kalau tidak salah, ada teman yang pernah bilang begini, "Luh, kenapa sih lo ga buka usaha semacam buka trip kemana-mana gitu, kan lo seneng travelling tuh? Kan enak, sambil liburan sambil kerja." Errr.. no. Kenapa saya bilang no? Karena ketika pekerjaan masuk ke ranah setingan "holiday mode on" buat saya itu ganggu banget. Saya jadi ga bisa maximize my adventurous and spontaneous mood, karena saya punya tanggung jawab yang berhubungan dengan komitmen orang yang membayar saya. 

Begitu pun fotografi. Saya sudah pernah trial and error (banyakan errornya sih) motret untuk pra wedding teman dan saudara saya. Ketiga-tiganya tidak dibayar dan saya memang maunya begitu. Dengan demikian, kalau misalnya hasil fotonya jelek, eh, ya jangan komplain dong yah, kan situ ga bayar saya. Hehe. Dengan demikian pula, saya merasa lebih bebas untuk eksplor tanpa terlalu terbebani oleh request anu ini itu dari (so called) misalnya client. 

But then again.. there's always a first time for everything. 


Wednesday, September 2, 2015

a best friend wedding

Salah satu cerita romantis yang melekat dalam ingatan saya adalah kisah milik Nabi Muhammad dan Siti Aisyah. Konon pada suatu hari, Muhammad bin Abdullah pulang larut malam. Lalu karena takut membangunkan Aisyah, maka dia tidak mengetuk pintu dan akhirnya tidur di depan pintu di teras rumah. Ketika pagi tiba, siapa sangka bahwa ternyata Aisyah pun tertidur tepat di balik pintu karena takut dia tidak mendengar ketika Muhammad pulang dan mengetuk pintu. Jadi sepanjang malam itu, sebenarnya mereka berdua tidur bersebelahan, cuma terhalang pintu aja. Romantis banget, ga sih?