Thursday, June 14, 2012

kamis dan si eksibisionis

Kemarin malam sekitar pukul sebelas kurang, sepulang dari gym saya jalan kaki sepanjang kira-kira 200 meter. Jalanan sudah sepi, di sisi sebelah kiri saya lihat ada seorang lelaki menghadap ke belakang. Saya berjalan perlahan sampai tiba-tiba dia mendesis, “Ssttt.. ssttt”, katanya. Saya menoleh, dan… oh la laaa...  super triple zonk, zonk, zonk! Mas nya lagi sibuk masturbasi, matanya nyalang menatap saya. Syiisshhh! Dude seriously, what the fuck did my eyes just saw?  Saya langsung pasang tampang dingin sembari mengambil langkah seribu. Yang saya tahu, penderita eksibisionis, atau istilah medisnya parafilia akan lebih senang kalau saya marah atau malah terkejut. 

   Ini tips untuk perempuan-perempuan yang bertemu dengan pria-pria sakit semacam ini, kemarin yang sempat terlintas di pikiran saya adalah: plan A, baca ayat kursi keras-keras, eh tapi saya ga hapal. Ya udah saya mau teriak-teriak aja nyanyi lagu Sepultura, tapi repot juga kalo lagi batuk.  Teman saya menyarankan, kalau kejadian lagi, langsung ketawain, tunjuk-tunjuk, dan bilang, "Ihhh.. kecil banget!" tapi yang ini saya ga berani. Plan B; seandainya rambut saya panjang sepinggang, saya mau melotot sambil keluarin suara cekikikan senyaring-nyaringnya ala kuntilanak biar gantian dia yang kaget dan ketakutan.  Minimal-minimal kalau pun dia sadar saya setan gadungan, biarlah dia berpikir saya ini gila. Konon kata orang, ada peraturan baku tak tertulis; sesama orang gila, tidak boleh saling ganggu. Betul, kan?

Eksibisionis berasal dari kata exhibition yang artinya pameran, memamerkan, atau mempertontonkan. Eksibisionis adalah dorongan fantasi sexual yang mendesak dan terus-menerus dengan memamerkan bagian genitalnya kepada orang lain. Dorongan tersebut bertujuan untuk mengejutkan, atau untuk dikagumi. 

you, sick bastard. seriusan lu, minta dikungfu. 

...